aku tahu sejak awal bahwa cinta kita langka. cinta yang jatuh
sempurna pada titik yang tak diduga. cinta yang tercipta dari setiap
karakter tulisan yang terbaca. cinta yang menjelma menjadi nyata dan
menggerogoti aku dan kamu (kita).
apakah ini bisa
disebut cinta? saat hanya namamu ku eja dalam hatiku, walau sekalipun aku
belum pernah memandang matamu. apakah ini disebut cinta? saat aku
merindukanmu, walaupun jari kita belum saling menggenggam hingga detik
ini. apakah ini bisa disebut cinta? saat aku pernah menangisimu bahwa
aku tak mau kehilanganmu.
seberapa pentingkah
perjumpaan nyata buatmu? kita beradu pandang seakan tak ada sekat dan
jarak waktu. aku hanya bisa mereka-reka, seberapa dalam perasaanmu
padaku. aku hanya bisa mengira-ngira, seberapa dalamkah virus yang kita
sebut cinta itu menggerogoti hati dan pikiranmu. yang aku tahu, cerita
kita ada walaupun begitu langka.
mereka menyatakan
perjumpaan nyata itu penting dan harus. mereka bilang dunia maya itu
abstrak, semua yang ada didalamnya selalu dipertanyakan kenyataannya.
tapi, bukankah cinta itu bisa datang darimana saja? bahkan dari jejaring
sosial yang terlihat sepele dan mengenaskan itu.
kita
memang tak bisa memungkiri keadaan. ada sekat jarak ratusan kilometer
yang membatasi aku dan kamu. ada gemerisik rindu yang berteriak keras
jelas dalam hatiku untuk segera menemuimu, merasakan sinar matamu, dan
hangat jemarimu saat menggenggam celah-celah jemariku.
walaupun
kamu jauh, aku tetap bisa menyentuhmu melalui doa. walaupun kamu jauh,
aku tetap bisa merasakan rindu yang begitu hebat mengobrak-abrik isi
otakku sehingga bayangmu semakin melebar dan membesar. walaupun kamu
jauh, kita tetap dapat melihat bulan yang sama, sayangnya aku dan kamu
menatapnya dari tempat yang berbeda.
andai kita dapat
berjumpa disuatu hari nanti, akan kuceritakan padamu bahwa cinta tak
selalu melalui pandangan mata, cinta tak selalu ada karena perkenalan
lama, cinta tak selalu tercipta karena perjumpaan nyata, tapi cinta bisa
berada dimana saja. bahkan didunia maya, tempat yang kadang tidak
diperlukan logika untuk melogiskannya.
(karya dwitasari)
