AKU DAN KAMU DIAM. DIAM-DIAM BERBICARA LEWAT MATA.

Sabtu, 19 Mei 2012

diam-diam merindukanmu

hujan menari-nari perlahan
menggelitik gemas pepohonan
dan angin mendesah
tubuhku menggigil
langit semakin cemas
ia terus-menerus menangis

sementara langkahmu semakin jauh
saat tubuhku yang kedinginan
sempat kau hangatkan dengan jemarimu
demikian sosokmu terasa lenyap
ketika labirin kosong dihatiku
mulai terisi olehmu

janji yang terucap
seakan-akan menguap
cinta yang dulu mengendap
berhembus menjadi uap

kini..
aku seperti tungku yang butuh api
diam-diam merindukanmu dalam sepi

aku sangat kenal bahasa rindu
namun kamu selalu saja tak tahu
padahal kamu penyebab racun didarahku!
terdakwa dari bisik tangisku

dan..
kau pergi ketika semua sudah tertata rapi
ketika peran mimpi dan nyata mulai berganti

(karya dwitasari)